Film Negeri 5 Menara

– Film yang akan kami bahas berikut ini diangkat dari Novel laris karangan Ahamd  Fuadi yang berjudul sama yaitu Negeri 5 Menara.  Buku Novel Negeri 5 Menara merupakan salah satu penjualan buku terbanyak Gramedia yang sampai dengan saat ini terjual sebanyak 200.000 eksemplar dengan 12 kali dicetak, dan ini merupakan rekor terbanyak yang diraih gramedia selama 37 tahun. Tentu dengan kepopuleran Novel ini, Film Negeri 5 Menara merupakan salah satu film yang akan dinanti-nanti bagi penikmat buku novel.

Film Negeri 5 Menara

Novel Negeri 5 Menara

Dikabarkan Film Negeri 5 Menara ini sedang melakukan syuting, dan direncanakan akan selesai pada akhir September 2011.  Proses syuting dan pengambilan gambarnya sendiri dilaksanakan di beberapa tempat di Indonesia dan juga ada yang di London.  Seperti di Pondok Pesantren Modern Gontor, di Ponorogo Jawa Timur, di Mesjid Salman Bandung, Bukittinggi dan Danau Maninjau Sumatera Barat, serta di London Inggris.  Dijadwalkan pula Film Negeri 5 Menara ini akan tayang pada bulan Februari 2012.

Adapun Cerita dan Sinopsis Film Negeri Lima 5 Menara ini merupakan sebuah Film pertama dari sebuah trilogi (seperti Novel nya) yang saling berkaitan dan bersambung.  Apabila di Novel, trilogi pertama berjudul Negeri 5 Menara, yang kedua Ranah 3 Warna , sedangkan yang ketika sedang dalam proses penulisan.  Inti dan Pesan utama dari Sinopsis Film ini yaitu sebuah petualangan seorang anak bangsa yang berlatar belakang sangat sederhana, namun karena keteguhan dan kerja keras, ia bisa sukses bukan saja di negeri sendiri, namun di tingkat dunia.

Cerita Film Negeri 5 Menara ini bermula dari seseorang bernama Alif. Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia selalu bermimpi, bahwa dirinya bisa menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian dia ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.  Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai,  Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.  Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Masih dari , Alif masih bermimpi bahwa dirinya bisa menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian dia ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika. Maka dari itu selesai dari Pondok,  dengan semangat besar dan menggelegar dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun sahabat karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya yaitu ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?

Page 1 of 2 | Next page

Comments

Powered by Facebook Comments

Tags: ,